The Politicization of Religion, Ironi of Ideology and Clash of Discourse Approaching 2019 General Election

  • Redi Panuju Universitas dr Soetomo

Abstract

 Artikel ini mengkaji penggunaan wacana komunisme  yang kerapkali dijadikan issu untuk merepresentasikan keberadaan individu, kelompok maupun institusi tertentu di Indonesia. Wacana digunakan oleh pihak pihak tertentu sebagai cara mengkomunikasi maksud untuk menarik perhatian, membentuk pencitraan, membelah opini  publik, dan pada akhirnya sebagai saluran membangun letimasi politik. Pada akhir bulan September 2017 wacana komunisme sebagai bahaya laten bagi Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merebak kembali melalui instruksi Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo kepada jajaran TNI untuk memutar kembali film “G.30 S/PKI”. Instruksi Panglima TNI tersebut menimbulkan pro-kontra di masyarakat di luar internal TNI. Melalui analisis wacana model Althusser dan Faucoult akan dapat dikontruksi komunikasi politik yang terjadi di level individu maupun institusi berkaitan dengan ajang pemilu tahun 2019.
Kajian ini dapat memberikan gambaran awal dan umum tentang issu issu yang  digunakan sebagai instrument politik dalam kontestasi politik tahun 2019. Issu bahaya laten komunisme akan merecovery kelompok masa lalu yang dilabeling pada masa Orde Baru dan sebaliknya mereposisi kelompok Orde Baru yang dituduh mengaburkan sejarah dan akan muncul kelompok baru sebagai pendulum issu terdebut.
Kata Kunci : Komunisme, Legitimasi, produksi wacana, reproduksi wacana,  Pilpres 2019

References

Abdullah, Taufik (eds). (2012). Malam Bencana 1965 Dalam Belitan Krisis Nasional Bagian II Konflik Lokal. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Bjørnskov, C. (2005). Does political ideology affect economic growth?. Public Choice, 123(1-2), 133-146.
Bruinessen, Martin van, (2013). “Introduction Contemporary Developments in Indonesian Islam and the ‘Conservative Trun’ of the Early Twenty-First Century.” In Contemporary Developments in Indonesian Islam, Explaning the “Conservative Turn”, edited by Martin van Bruinessen, 1–20. Singapore: ISEAS.
Clarkson, J. J., Chambers, J. R., Hirt, E. R., Otto, A. S., Kardes, F. R., & Leone, C. (2015). The self-control consequences of political ideology. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(27), 8250-8253.
Denny JA. (2006). Partai Politikpun Berguguran. Yogyakarta: LKiS
Dijk, Jan Van. (2012). The Network Society. California : SAGE Publications.
Eriyanto. (2001). Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LKiS
Eriyanto. (2000). Kekuasaan Otoriter: Dari Gerakan Penindasan Menuju Hegemoni. Yogyakarta: Insist Press.
Feldman, S., & Johnston, C. (2014). Understanding the determinants of political ideology: Implications of structural complexity. Political Psychology, 35(3), 337-358.
Hefner, Robert W. (2010). Religious resurgence in contemporary Asia: Southeast Asian perspectives on capitalism, the state, and the new piety. The Journal of Asian Studies, 69(4), 1031-1047.
Hermawan, Anang. (2011). Mix Methodology Dalam Penelitian Komunikas. Yogyakarta: ASPIKOM.
Ida, Rachmah. (2014). Metode Penelitian Studi Media dan Kajian Budaya. Jakarta: Prenada Media.
Jacob, Tengku. (2004). Tragedi Negara Kesatuan Kleptokratis Catatan di Senjakala. Jakarta: Yayasan Obor
Kamil, Sukron dkk. (2007). Syariah Islam dan HAM: Dampak Perda Syariah terhadapKebebasan Sipil, Hak-hak Perempuan, dan Non-Muslim Jakarta: CRSC UIN Jakarta danKonrad Adenauer Stiftung.
Liddle, R.William. (1992). Partisipasi & Partai Politik Indonesia pada Awal Orde Baru. Jakarta: Grafit.
Littlejohn, Stephen W (edt). (2009). Enclyclopedia of Communication Theory. California: SAGE Publication, Inc.
Lull, James. (1998). Media Komunikasi Kebudayaan Suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan Obor.
Maghfur, (2012) dkk, Islam Transformatif. Risalah kerja Intelektual Organik (Pekalongan: STAIN Pekalongan Press)
Makin, Al (2009), “Benedict XVI and Islam: Indonesian Public Reactions to the Regensburg Address.” Islam and Christian-Muslim Relations 20 (4): 409–21.
Makin, Al (2015)b. “Revisiting Indonesian Public Reactions against Danish Cartoons Depicting Prophet Muhammad.” Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies 5 (2): 195–229
Mulyana, Deddy. (2012). Komunikasi Politik-Politik Komunikasi. Bandung: Rosdha Karya.
Muqtada, Rikza. (2017) "Utopia Khilāfah Islāmiyyah: Studi Tafsir Politik Mohammed Arkoun." Jurnal Theologia 28.1: 145-164
Nasution, Harun (1983). Teologi Islam: Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan, Jakarta: UI Press
Panuju, Redi. (2002). Relasi Kuasa Negara,Media,dan Publik. Yogayakarta: Pustaka Pelajar.
Panuju, Redi. (2017). Komunikasi Politik Jokowi: Antara Pencitraan dan Jejaring Politik. Jurnal Komunikatif. No 16 (2) 2017: 92-116. ISSN: 2597-6699
Panuju, Redi. (2017). Sistem Penyiaran Indonesia. Jakarta : Kencana Prenada Mediagroup. Cet-2.
Simbolon, Parakitri T. (1998). Media Komunikasi Kebudayaan Suatu Pendekatan Global. Jakarta: Yayasan Obor.
Siregar, Ashadi (eds). (1997). Ilusi Sebuah Kekuasaan. Surabaya: ISAI & Ubaya.
Susanto, N. H. (2017). Reinterpretasi Konsep Bidah Menuju Islam Transformatif. Jurnal Madania, 21(2), 235-246.
Susanto, N. H. (2018). Menangkal Radikalisme Atas Nama Agama Melalui Pendidikan Islam Substantif. Nadwa, 12(1), 65-88.
Yuliati, Dewi. (2000). Semaoen: Pers Bumi Putra dan Radikalisasi Sarekat Islam Semarang. Semarang: Yayasan Akikarya IKAPI dan The Ford Foundation dan Penerbit Bendera.
Published
2018-05-11
How to Cite
PANUJU, Redi. The Politicization of Religion, Ironi of Ideology and Clash of Discourse Approaching 2019 General Election. JURNAL PENELITIAN, [S.l.], p. 1-14, may 2018. ISSN 2541-6944. Available at: <http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/Penelitian/article/view/1357>. Date accessed: 28 feb. 2019. doi: https://doi.org/10.28918/jupe.v15i1.1357.
Section
Artikel