SALAT DUHA SEBAGAI BUDAYA POPULER DALAM PEMAKNAAN ANGGOTA MAJELIS DHUHA BANTUL

  • Nurul Afifah UIN Sunan Kalijaga

Abstract

Majelis Duha Bantul is a community that consistly performs Duha prayer in specific and unique style; by performing it collectively, in certainly days, etc. The major question in this research is how they interpretate the duha prayer that they commit? This research is field research with the descriptive, qualitative and analitic genre by applying etnographical approach and the sociology of knowledge theory, and applying the interview and observation as the method. This result of this research reveal three meaning of the duha ritual in the perspective of majelis duha Bantul: (1) objective meaning that is the meaning of the Duha Prayer which majelis duha Bantul understood from the hadis that suggesting the duha prayer. (2) expressive meaning which personally diverse, several person interpretate duha prayer as the effort to attain the physical and mental health, some men religiously interpretate that duha prayer is one of many ways to reach the wordliness success and the hereafter happiness, etc. (3) documenter meaning that show the duha prayer as the ritual based on the hadis advice but in very fact this ritual is disputed still by some scholars; by commiting the duha prayer it means they indentified them self as the community that  appraise the duha prayer collectively is the sunah ritual. And finally this duha ritual subconsciously become the living hadis ritual it self.Keyword: Duha Prayer, majelis Dhuha Bantul, living hadith, sosiology of knowledge AbstrakMajelis Dhuha Bantul merupakan sebuah komunitas yang secara konsisten melaksanakan salat Duha dengan model yang khas dan unik; dilakukan bersama, di hari ternentu dan sebagainya. Pertanyaannya kemudian, bagaimana pemaknaan salat Duha yang dilakukan oleh komunitas tersebut? Penelitian ini merupakan penelitian lapangan yang bersifat diskriptif, kualitatif dan analitik dengan pendekatan etnografi dan menggunakan teori sosiology of knowledge, dengan metode wawancara, observasi, interview dan sebagainya. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan tentang salat Duha yang diambil berdasarkan informasi dari komunitas tersebut dapat dikategorikan menjadi tiga macam: (1) makna objektif yakni salat Duha yang dilaksanakan oleh Majelis ini berangkat dari pemahaman mereka terhadap teks-teks normatif yakni hadis-hadis wasiat tentang salat Duha. (2) Makna ekpresif (personal) cukup beragam; ada yang memaknai sebagai upaya mendapat kesehatan fisik maupun psikis, meningkatkan sikap religius pelaku, mendapatkan kesuksesan dunia-akhirat dan sebagainya. (3) Makna dokumenter; pada dasarnya praktik tersebut berdasarkan teks-teks hadis yang pada kenyataannya masih diperselisihkan oleh para ulama; dengan memeraktikkan salat Duha, berarti mereka mengidentifikasikan diri dengan kelompok yang menilainya sebagai ritual sunah. Pada gilirannya, tanpa mereka sadari praktik ini pun menjadi salah satu bentuk living hadis.Kata kunci: salat Duha, majelis Dhuha Bantul, living hadis, sosiology knowledge.
Published
2018-02-19
How to Cite
AFIFAH, Nurul. SALAT DUHA SEBAGAI BUDAYA POPULER DALAM PEMAKNAAN ANGGOTA MAJELIS DHUHA BANTUL. RELIGIA, [S.l.], p. 160-173, feb. 2018. ISSN 2527-5992. Available at: <http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/Religia/article/view/927>. Date accessed: 18 oct. 2018. doi: https://doi.org/10.28918/religia.v20i2.927.
Section
Artikel

Keywords

salat Duha, majelis Dhuha Bantul, living hadis, sosiology knowledge