Konstruksi Filosofis Fatwa DSN-MUI

  • Mohammad Fateh IAIN Pekalongan

Abstract

Tulisan ini diarahkan pada dua pokok bahasan, yaitu; bagaimana metode ijtihad yang digunakan dalam penetapan fatwa DSN-MUI, dan  bagaimana konsep maqāsid asy-syarī’ah digunakan sebagai hujjah dalam menemukan nilai-nilai filosofis fatwa DSN-MUI. Oleh karena muara maqāsid asy-syarī’ah itu adalah maṣlahat, maka metode pengujiannya dilakukan dengan mencermati penggunaan kaidah-kaidah fiqh yang terkait dengan maṣlahat dalam fatwa-fatwa DSN-MUI. Sesuai dengan obyek kajiannya studi ini dapat dikategorikan sebagai penelitian kualitatif dengan sumber data berupa himpunan fatwa DSN-MUI tahun 2000-2017.
Berdasarkan studi yang mendalam ditemukan bahwa DSN-MUI dalam menetapkan fatwa mempergunakan tiga pendekatan, yaitu pendekatan naṣ qaṭ’i dengan berpegang kepada al-Qur’an ataupun al-Hadiṡ yang dalālah-nya ditunjukkan secara jelas, pendekatan qauli (pernyataan verbal) dengan mengambil pendapat para ahli fiqih yang terdapat dalam al-kutub al-mu’tabarah, yang ‘illat hukumnya sesuai dengan yang terjadi saat ini, dan pendekatan manhaji (metodologis) melalui metode: al-jam’u  wa al-taufīq, tarjīhi, ilhāqi, dan istinbāṭi. Metode istinbāṭi ini dilakukan dengan menerapkan  metode qiyāsi, istiṣlāhi, istihsāni, dan saddu aż-żarī’ah. Selain itu, DSN-MUI sangat mempertimbangkan kemaslahatan umum (maṣālih ‘āmmah) dan maqāsid asy-syarī’ah. Adapun penggunaan kaidah fiqih dalam fatwa DSN-MUI ditemukan sebanyak 37 macam kaidah yang berbeda-beda yang diulang-ulang sebanyak 242 kali. Kaidah fikih yang lebih banyak digunakan ialah kaidah yang menyatakan bahwa asal hukum urusan muamalat itu dibolehkan selama tidak ada dalil yang mengharamkannya. Kuantitas penggunaannya sebanyak 78 kali dengan prosentase 32,2. Kaidah yang sangat umum ini, seringkali digunakan tanpa disertai dengan kaidah lain yang lebih khusus, sehingga mengesankan fatwa DSN-MUI cenderung “longgar” dan jawabannya kurang “menukik” pada permasalahan, meskipun masih absah untuk digunakan. Di sisi lain, terdapat 11 macam kaidah yang bermuatan nilai-nilai maqāsid asy-syarī’ah yang penggunaannya diulang-ulang sebanyak 112 kali. Hal ini mengindikasikan bahwa fatwa DSN-MUI mulai dinamis dan inovatif dalam penggalian  istinbāṭ hukum, meskipun ke depannya penggunaan kaidah yang bermuatan maqāsid asy-syarī’ah masih harus lebih banyak lagi, mengingat banyaknya masalah baru di bidang muamalah yang jawaban hukumnya tidak ditemukan dalam naṣ qaṭ’i.
Published
2018-12-31
How to Cite
FATEH, Mohammad. Konstruksi Filosofis Fatwa DSN-MUI. JURNAL HUKUM ISLAM, [S.l.], p. 1-17, dec. 2018. ISSN 2502-7719. Available at: <http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/jhi/article/view/1430>. Date accessed: 22 may 2019. doi: https://doi.org/10.28918/jhi.v17i2.1430.

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.