Potret Waris di Gunungsari

  • Abdullah Abdullah

Abstract

Sistem hukum syariat sampai saat ini masih digugat dan dihujat oleh sebagian orang terkait “kekurangadilan” hukum warisan, terutama terkait perimbangan pembagian 2:1. Bukan hanya perseteruan pada tataran konsep, dalam tataran praktikpun tidak lepas dari tarik ulur antara hukum waris Islam dan hukum waris adat. Penulis mengkaji tradisi pembagian waris di Gunungsari dengan pendekatan kualitatif, metode wawancara dan observasi. Gunungsari menjadi objek yang menarik untuk dikaji karena termasuk icon lombok barat pada perkembangan pendidikan agama (pondok pesantren). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi pembagian waris menggunakan lima metode, antara lain: 1) Pembagian harta warisan dengan memusatkan pembagian harta warisan kepada anak laki-laki Tertua; 2) Pembagian dengan memusatkan ahli waris laki-laki sebagai pemegang kuasaan penuh; 3) Harta warisan terbagi menjadi harta mame untuk laki-laki harta nine untuk perempuan dan laki-laki; 4) Pembagian dengan sukarela; 5) Pembagian harta warisan dengan menggunakan hukum waris Islam. Sedangkan faktor-fator yang menyebabkan tradisi pembagian, meliputi faktor budaya, keterbatasan pemahaman masyrakat, penegak hukum waris Islam yang kurang maksimal, materi hukum yang sulit dipahami masyarakat. Solusi untuk menghidupkan kembali waris Islam yaitu dengan sosialisasi kepada tokoh agama, pendidikan waris yang maksimal dan massif ke masyarakat, dan pengontrolan oleh pihak yang berwenang terhadap hukum pembagian waris di luar Islam.

References

Akhmad Haris. (2015). Dinamika Hukum Kewarisan Dalam Perspektif Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga (Hk) Jurusan Ilmu Syariah Fakultas Syariah IAIN Samarinda, Jurnal Fenomena, Volume 7,No 2, 2015, 298.
Al-bajuri. (t.t). Khasyiah Albajuri, Imaratul Haramain, 202
Fahrurrozi Dahlan. (2014). Paradigma Dakwah Sosiologis, LEPPIM UIN Mataram 2014, 1.
Marcus Priyo Gunarto. (2011). Kriminalisasi dan Penalisasi Dalam Rangka Fungsionalisasi Perda dan Retribusi, Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang, 2011,Hlm 71- 71, dikutip Salim H.S dan Erlies Septiana Nurbaini, 308.
Miftahul Huda. (2015). Manhaj fiqih Salafi Literal, Eksplorasi, Kritik Dan Apresiasi, Journal ULUMUNA Vol. 19 No 1. 2015. 113
Muhibuddin. (t.t). Pembaharuan Hukum Waris Islam di Indonesia. Bandung: Sinar Baru
Muhammad Amin suma. (2012). Menakar Keadilan Hukum Waris Islam Melalui Pendekatan Teks Dan Konteks Al-Nushûsh. Jurnal ahkam:vol. XII, no. 2, juli 2012. 47-48.
Nanang Hasan Susanto. (2015). Tantangan Mewujudkan Kesetaraan Gender Dalam Budaya Patriarki, MUWAZAH, Volume 7, Nomor 2, Desember 2015, 120.
Raida L Tobing, dkk, (2011). Efektivitas Undang-Undang Monrey Loundering, Badan Pembinaan Hukum Nasional, Kementrian Hukum dan HAM RI, Jakarta, 2011, 11.
Syahdan. (2016). Pembagian Harta Warisan Dalam Tradisi Masyarakat Sasak : Studi Pada Masyarakat Jago Lombok Tengah, Jurnal Palapa Vol. 4 No 02 November 2016, 123.
Zainal Arifin Munir. (2013) PosisI perempuan Dalam Waris Didesa Truwai Kec.Pujut Lombok Tengah Jurnal Istinbath,Vol.12,No.1,Desember 2013, 243.
Observasi awal, Tgl, 12 November 2017 Bapak Saiman: Hasil wawancara
Hasil wawancara dengan penghulu Desa Penimbung, H. Sanusi. 14 November 2017
Wawancara bebas dengan Tgh. Zulhakim tanggal 30 November 2017.
Wawancara dengan informan dari tokoh agama Bapak H. Mustafa tgl 22 juni 2018 pkl 21.00
Wawancara 22 juni 2018 Pkl 21. 00 Wita
Wawancara dengan tokoh masyarakat bapak Saiman tgl 20, 23 juni dan 12, 16 Juli 2018 Pkl 20.00
Wawancara dengan Hamzan Dari Desa Ranjok, Marsoant Dari Desa Mekar Sari, Muzakkir dari Desa Sesela, dan Fatah Dari Desa Lilir. 1-4 juli 2018.
Wawancara dengan Akhyar Rasyidi, Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram 20 juni 2018
Published
2020-06-03
How to Cite
ABDULLAH, Abdullah. Potret Waris di Gunungsari. JURNAL HUKUM ISLAM, [S.l.], v. 18, n. 1, june 2020. ISSN 2502-7719. Available at: <http://e-journal.iainpekalongan.ac.id/index.php/jhi/article/view/2658>. Date accessed: 13 july 2020. doi: https://doi.org/10.28918/jhi.v18i1.2658.